Sejarah Suku Talaud Dan Penjelasannya

dismovsin 0
Sejarah Suku Talaud Dan Penjelasannya

Untuk pembahasan kali ini kami akan mengomentari suku Talaud yang dalam hal ini meliputi sejarah, bahasa, mata pencaharian, kekerabatan dan keyakinan, ada baiknya memahami dan lebih memahami untuk melihat komentar dibawah.

Sejarah Suku Talaud Masyarakat

suku Talaud tinggal di kepulauan Kepulauan Talaud di Kabupaten Kepulauan Sangir-Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Wilayahnya terdiri dari tiga pulau utama: Karakelang, Salibabu dan Kabaruan. Nama lain dari Talaud adalah Taloda yang berarti “manusia laut”, ada yang menyebutnya Porodisa.

Suku Talaud Talaud adalah bahasa yang terdiri dari enam dialek: Sali-Babu, Karakelang, Essang, Nanusa, Miangas, dan Kabaruan. Bahasa Talaud juga mengenali tingkat bahasa halus, sedang, dan kasar. Perusahaan ini menggunakan bahasa Melayu Manado sebagai lingua franca “setiap hari”.

Suku Talaud

Mata pencaharian suku talaud sebagian besar pemburu ikan merupakan mata pencaharian suku Talaud, hanya sebagian kecil dari pertanian atau peternakan yang merupakan pekerjaan sampingan bagi suku Talaud. Daerah Talaud memiliki tanaman ubi kayu sebagai tanaman utama, meski sudah diupayakan untuk menanam padi.

Rata-rata penduduk Talaud terutama yang tinggal di desa Bowongbaru di Pulau Sali-Babu melihat hampir sebagian besar penduduknya bergelut dengan hubungan lintas batas dengan negara tetangga Filipina, hal ini dikarenakan banyak dari keluarganya juga tinggal di Filipina. Suku ini mengetahui teknologi dalam pembuatan perahu nelayan yang diadopsi oleh orang Filipina, perahu ini merupakan perahu pompa yang umum digunakan saat ini. Ada juga kapal atau kapal dengan Fuso Energy, yaitu mesin yang digunakan untuk mengangkut truk. Kapal berangkat dalam 4-5 jam untuk mendarat di wilayah Filipina. Suku Talaud yang tinggal di kawasan Bowongbaru memiliki sekitar 200 motor pompa.

Hal ini menjadikan aktivitas komersial antara suku Talaud dan Filipina sangat umum di kota ini. Kapal ini sangat efektif dalam menangkap ikan pelagis, khususnya tuna. Resesi ekonomi telah menyebar ke banyak daerah pedesaan di Kepulauan Talaud, sehingga mudah untuk menemukan barang berlabel di Filipina, seperti minuman beralkohol, minuman ringan, peralatan makan atau minum, dan banyak lagi. Cukup banyak barang dari Davao-Filipina yang diperdagangkan di daerah Talaud. Kegiatan ekonomi lintas batas ini merupakan kegiatan yang sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan.

Hubungan dagang dan hubungan lintas batas masyarakat Talaud dengan Filipina telah terjalin sejak lama dan strategi Kepulauan Talaud adalah memenuhi kebutuhan ekonomi dan menjalin ikatan kekeluargaan. Hal ini juga memperkuat ketergantungan ekonomi Talaud pada Filipina. Kondisi hubungan ini memunculkan faktor-faktor yang mempengaruhi keutuhan bangsa dalam mempertahankan jati diri bangsa. Hal ini dikarenakan daya tarik ekonomi yang cenderung mengunggulkan posisi Filipina, di sisi lain perhatian pemerintah Indonesia masih minim dan dinilai kurang memuaskan bagi kesejahteraan penduduk. Dari sini terlihat bahwa perkembangan budaya suku Talaud sangat terbuka namun juga rentan.

Sistem Relasional Suku Talaud

Karena mata pencaharian mereka lebih terikat pada laut, masyarakat ini umumnya mendirikan desa-desa pesisir di dekat muara sungai. Satuan keluarga disebut gaghurang dan mereka tinggal di rumah semi permanen yang disebut bale. Keluarga induk kemudian membentuk kelompok keluarga terbatas yang disebut ruang.

Kelompok ini tinggal di sebuah rumah besar yang disebut bale manandu. Saat itu mereka sedang bekerja di sebuah peternakan atau memancing agak jauh dari kota. Mereka harus membangun rumah sementara yang mereka sebut sabua. Sebuah desa biasanya ditempati oleh satu ruangan, tetapi umumnya terdiri dari tiga atau empat ruangan. Orang Talaud memiliki hubungan kekerabatan bilateral.

Pada zaman dahulu, komunitas Talaud telah mengembangkan sistem sosial politik dalam bentuk pemerintahan kecil. Pengaruhnya masih terlihat hingga saat ini di lapisan sosial masyarakatnya. Keturunan raja dan bangsawan kuno disebut kelompok papung, dan di bawah mereka adalah orang biasa. Mantan budak itu disebut alangnga. Saat ini, lapisan sosial yang kuat tersebut telah meredup pengaruhnya.

Pada zaman kuno pernah ada karya Talaud yang disutradarai oleh seorang ratu atau raja. Kekuasaan di bawah komandonya dibagi di antara beberapa jogugu yang juga menguasai beberapa desa “wanua” di bawah komandonya. Kepala desa disebut kapten kapal. Dalam menjalankan tugasnya, nakhoda kapal ini dibantu oleh beberapa majelis biasa yang disebut Inanggu Wanua, yang sebenarnya merupakan gabungan dari para pemimpin kelompok keluarga terbatas yang disebut Timadu Ruangana.

Sistem Pemerintahan Suku Talaud

Pada zaman dahulu, masyarakat Talaud mengalami perkembangan sistem sosial dan politik dengan terbentuknya kerajaan-kerajaan kecil. Saat ini, pengaruh zaman pemerintahan masih terlihat pada stratifikasi sosial masyarakat. Keturunan bangsawan dari raja dan bangsawan kuno disebut kelompok papung, dan kelas bawah adalah orang biasa. Budak disebut alangnga di zaman kerajaan sebelumnya. Saat ini, lapisan sosial seperti itu telah mengalami penipisan yang nyata dan mulai memudar.

Kerajaan Talaud pernah memiliki seorang pemimpin sebagai ratu atau raja. Kepemimpinan di lapisan bawah terbagi di antara masyarakat Jogugu sebagai pemimpin dari sederet kampung (wanua) di bawahnya. Kepala desa disebut kapten laut. Semua kegiatan tugas para nakhoda dibantu oleh serangkaian dewan adat yang disebut Inanggu Wanua, yang merupakan perpaduan para pemimpin kelompok keluarga terbatas yang disebut Timadu Ruangana.

Pendirian bangunan masyarakat Talaud terjadi terutama di wilayah pesisir, hal ini dikarenakan mata pencaharian utama yang berasal dari laut terdekat dengan muara. Satuan keluarga suku Talaud disebut gaghurang dan mereka tinggal di rumah semi permanen yang memiliki istilah balla. Keluarga induk membentuk kelompok keluarga yang lebih terbatas yang memiliki istilah ruang. Kelompok tersebut tinggal di sebuah rumah besar yang disebut bale manandu.

Ketika suku Talaud bekerja di bidang pertanian atau berlayar jauh dari kampung halamannya, dengan syarat suku Talaud harus membangun tempat penampungan sementara yang mempunyai istilah sabua untuk suku Talaud. Sebuah kota biasanya dihuni oleh satu ruangan, tetapi umumnya terdiri dari tiga atau empat ruangan.

Sumber: Sudut Pintar